Beberapa tahun lalu, membeli pakaian bekas mungkin dianggap memalukan. Kini, thrifting justru menjadi bagian dari gaya hidup anak muda, terutama Gen Z. Mereka berbondong-bondong mendatangi toko barang bekas, pasar loak, hingga berburu di platform online untuk mendapatkan potongan unik dengan harga terjangkau.

Mengapa Gen Z Jatuh Cinta pada Thrifting?

Ada banyak alasan di balik popularitas thrifting. Pertama, tentu saja faktor ekonomi. Dengan modal kecil, Gen Z bisa mendapatkan pakaian berkualitas yang bahkan tak jarang masih sangat layak pakai. Kedua, thrifting memungkinkan mereka tampil dengan gaya yang benar-benar personal. Tidak ada yang mau berpapasan dengan orang lain yang memakai outfit sama persis.

"Dulu saya beli baju bekas karena keterbatasan budget, sekarang justru karena saya ingin tampil unik. Setiap pieces yang saya temukan punya cerita," ujar Nadia, seorang mahasiswi di Jakarta.

Selain itu, thrifting juga sejalan dengan kesadaran lingkungan. Banyak Gen Z yang mulai peduli pada isu fast fashion dan dampaknya terhadap bumi. Dengan membeli pakaian bekas, mereka merasa telah berkontribusi mengurangi limbah tekstil.

Ekonomi Sirkular di Dunia Fashion

Thrifting bukan sekadar jual-beli barang bekas. Ia adalah bagian dari ekonomi sirkular, sebuah model ekonomi yang bertujuan meminimalkan limbah dengan memperpanjang siklus hidup produk. Dalam konteks fashion, pakaian yang sudah tidak terpakai bisa kembali memiliki nilai ekonomi jika dijual atau didaur ulang.

Menurut laporan ThredUp, pasar global fashion bekas diprediksi mencapai US$351 miliar pada 2027. Angka ini menunjukkan bahwa thrifting bukan tren sesaat, melainkan pergeseran perilaku konsumen yang signifikan.

Para penjual thrifting pun semakin kreatif. Mereka tidak hanya mengandalkan lapak fisik, tetapi juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk memamerkan koleksi. Foto estetik, video singkat, hingga sesi live shopping menjadi strategi jitu untuk menarik pembeli.

Dampak Positif bagi Lingkungan

Membeli pakaian bekas memang lebih ramah lingkungan dibandingkan membeli produk fast fashion yang diproduksi massal. Proses produksi pakaian baru membutuhkan sumber daya besar. Misalnya, satu celana jeans saja memerlukan 1.800 galon air, mulai dari menanam kapas hingga menjadi produk jadi.

Belum lagi, sebagian besar pakaian baru terbuat dari bahan sintetis yang butuh ratusan tahun untuk terurai. Data UN Environment Programme (UNEP) menunjukkan limbah tekstil dunia mencapai 92 juta ton per tahun, dan angka ini bisa melonjak menjadi 134 juta ton pada 2030 jika tidak ada perubahan pola konsumsi.

Thrifting diyakini dapat mengurangi limbah tersebut. Namun, ada catatan penting: thrifting harus dilakukan secara bijak, bukan konsumtif. Jika hanya menjadi ajang belanja berlebihan, thrifting justru bisa memicu impor pakaian bekas ilegal yang membawa sampah dari luar negeri.

Tips Thrifting agar Tetap Gaya dan Bertanggung Jawab

  • Pilih kualitas, bukan kuantitas. Periksa kondisi pakaian sebelum membeli. Pastikan tidak ada lubang atau noda membandel.
  • Fokus pada item yang bisa dipadupadankan. Pilih potongan yang mudah dikombinasikan dengan koleksi yang sudah ada.
  • Kenali bahan. Pakaian dari bahan alami seperti katun atau linen biasanya lebih awet dan nyaman.
  • Manfaatkan media sosial untuk inspirasi. Cari ide mix and match dari komunitas thrifting di Instagram atau TikTok.
  • Jangan tergoda diskon besar. Beli hanya yang benar-benar Anda butuhkan.
  • Dukung penjual lokal. Membeli dari penjual thrifting lokal membantu perputaran ekonomi sirkular.
  • Raw at home. Cuci bersih pakaian bekas sebelum dipakai untuk menjaga kebersihan.
  • Jual kembali jika sudah tidak cocok. Berikan kesempatan pada orang lain untuk memakainya.

Dengan menerapkan tips di atas, thrifting tidak hanya membuat penampilan lebih stylish, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan perekonomian. Jadi, tunggu apalagi? Mulai jelajahi toko thrifting terdekat dan temukan gaya unikmu!

Reporter: Maya Handayani